T
erkadang berkamuflase itu perlu kan? Tidak. Bukan kamuflase dalam hal yang negatif, melainkan untuk hal yang positif.
”Mengapa kita harus belajar Bahasa Inggris? Padahal  bahasa Internasional kan tidak hanya itu.”
Kenapa harus memakai istilah kamuflase??
Menurut saya kamuflase itu perubahan yang totalitas. Berbeda dengan mimikri, apalagi diaspora.
Itu adalah pertanyaan yang saya ajukan sekitar lima tahun lalu ketika saya mengikuti seminar Globalization di SMA. Saat itu pematerinya adalah seorang perempuan yang kemudian menjawab pertanyaan saya sambil tersenyum. Beliau mengatakan kalau bahasa Internasional itu banyak sekali, seperti Bahasa Perancis, Jerman, Jepang, Spanyol dan lain sebagainya. Tapi kita harus tahu kalau dari keseluruhan Bahasa itu, 75% bahasa Internasional yang dipakai adalah Bahasa Inggris.Semenjak saat itu, saya semakin yakin untuk meningkatakan kemampuan saya dalam berbahasa Inggris.
***
Saya merasa kasihan pada anak-anak SD Romben Guna yang tidak memiliki dasar berbahasa Inggris sama sekali seperti halnya anak-anak SD di tempat saya. Bahkan mereka tidak tahu cara memperkenalkan diri ataupun bahasa Inggris dari hewan dan buah, yang mana, di tempat lain sudah diajarkan semenjak Taman Kanak-kanak.
Saya masih ingat ketika salah seorang murid les saya yang bernama Lukman datang untuk pertama kali. Dia sudah kelas tujuh SMP dan tak tahu apapun tentang Bahasa Inggris. Ada rasa sedih bercampur senang. Sedih karena merasa kasihan pada anak yang sudah duduk di bangku SMP tapi tak tahu apapun mengenai Bahasa Inggris. Saya senang melihat semangat belajarnya yang tinggi, meskipun kemampuannya masih sama dengan anak SD. Saya merasa sangat dihargai, walaupun anaknya sedikit bandel, namun sopan santunnya kepada yang mengajari memang patut untuk dihargai.
Seperti halnya Lukman, siswa SMP saya yang lain adalah Adi. Ia merupakan murid paling tua dan sulit diatur. Pertama kali datang ke balai, ia meminta teman saya untuk diajari mengerjakan PR Bahasa Inggris. Saya masih ingat pertanyaan yang dia tulis dalam bukunya saat itu adalah
1.       What does the writer hear?
Lalu terjadi percakapan di bawah ini antara saya dan Adi:
Saya       : Ini soalnya listening atau ada soal cerita dulu?
Adi         : Tidak tahu kak, pokoknya disuruh mengerjakan.
Saya       : Ya tidak bisa soalnya ini kalau nggak listening ya ada paragraph sebelumnya.
Adi         : (Mengangguk) iya kak.
Lalu dia minta diajari Bahasa Inggris karena mungkin ia tak tahu kalau di balai memang sudah ada les Bahasa Inggris. Ketika saya beri beberapa pertanyaan yang seharusnya sudah bisa ia jawab sebagai murid SMP, ia hanya tersenyum sambil menggeleng. Dari situ saya tahu kalau kemampuan berbahasa Inggrisnya memang masih nol.
Sedangkan siswa saya yang paling bandel adalah Rofiki, murid kelas 6 di SDN Romben Guna 1. Saya tidak tahu bagaimana caranya suapaya membuatnya tenang dan tidak gaduh ketika diajar. Tapi rasanya percuma, karena emosinya memang masih labil dan sulit sekali diatur. Ia juga tidak segan-segan memukul teman meskipun sudah sering diancam hukuman. Suatu hari, saya pernah sangat marah pada Rofiki. Saya menyuruhnya keluar dari kelas karena kelakuannya saat itu memang sudah kelewat batas. Saya mendiamkannya sampai jam pelajaran selesai. Entahlah, di akhir pelajaran tiba-tiba ia menyapa saya duluan. Dan setelah itu, ia sedikit bisa diperingati meski masih bandel.
Pertama kali memang sangat sulit. Saya tidak tahu bagaimana cara pengajaran yang sesuai supaya mudah diterima untuk anak-anak. Apalagi saya bukan dari jurusan Pendidikan yang notabene outputnya memang untuk mendidik.Ketika pertama kali mengajar dan memberi materi “Introduction 1”, menunggu mereka menulis delapan baris kalimat membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih. Rasa prihatin saya semakin tinggi, setidaknya saya ingin memberi sedikit manfaat bagi orang lain sehingga apa yang saya dapatkan selama ini tak terlalu sia-sia.(ik)
Reviewed by ach zamhari on 11:08 AM Rating: 5

No comments

Post AD