Tulisan Lepas untuk Muda-Mudi di Romben Guna



By Google


Mungkin dulu wanita Jawa wajib dipingit setelah berumur sekitar Sembilan tahun ke atas sampai ada seorang lelaki yang ingin menjadikannya istri. Apalagi mengingat feminis termashur kita, Raden Ajeng Kartini yang juga mengalami hal demikian sehingga menghambat keinginannya untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Sehingga mendorongnya menulis dan menulis hingga suratnya ada yang diterbitkan dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang oleh sahabatnya Mr.J.H. Ambendanon.

Namun kali ini kita tidak akan berbicara mengenai R.A Kartini ataupun tokoh-tokoh feminisme yang lainnya. Melainkan budaya nikah muda yang masih menjadi tradisi bagi beberapa tempat di Indonesia terutama Madura.

Di Romben Guna, ternyata budaya perjodohan ataupun nikah muda masih menjadi suatu hal yang sakral dan wajib dihargai. Apalagi Madura sangat terkenal dengan budaya ”tunangan” yang mana, menurut saya tidak terlalu berbeda dengan pacaran. Hanya saja, jika bertunangan orang tua dari kedua belah pihak sudah sama-sama setuju. Dan si lelaki atau perempuan dituntut memiliki kesetiaan yang tinggi sehingga pertunangan bisa dibatalkan jika salah satu dari mereka melakukan pengkhianatan.

Saya masih ingat ketika membantu mengajar ngaji di salah satu mushola di Dusun Tengah. Ketika itu saya berkenalan dengan salah satu santriwati disana, yang anggap saja namanya Rinda(bukan nama sebenarnya). Dia adalah siswi kelas Sembilan di SMP Bicabbi. Anaknya manis, anggun dan terlihat pendiam. Berikut percakapan saya dengan Rinda:

Saya       : Adek sudah punya tunangan?

Rinda     : Sudah, kak.

Saya       : Dijodohkan atau milih sendiri?

Rinda     : Dijodohkan kak.

Saya       : Dia kelas 9 juga?

Rinda     : Bukan. Dia masih kelas 8.

Saya       : SMP yang sama?

Rinda     : Iya kak.

Mendengar jawaban dari Rinda, saya jadi merasa kasihan padanya. Bukan saja karena ia telah dijodohkan oleh orang tuanya, namun tradisi masyarakat yang seperti itulah yang mendorong perempuan untuk selalu menjadi kalangan domestik. Orang-orang pinggiran yang masih sangat berpegang erat pada traditional gender role yang mana budaya ini menganggap kalau perempuan adalah makhluk lemah, domestik, irasional dan tidak bisa seperti lelaki yang rasional, kuat, publik dan lain sebagainya. Intinya budaya patriarki masih menjadi sesuatu yang sangat benar bagi masyarakat di daerah ini.

Namun, budaya nikah muda yang masih kental di daerah Romben Guna memang tidak mudah dihilangkan begitu saja meski masyarakat sudah masuk dalam era globalisasi. Lagipula, kesadaran seperti itu memang tak mungkin langsung dialami oleh sekelompok orang secara instan. Masyarakat dalam desa ini perlu untuk menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang wajib, sehingga baik perempuan atau lelakinya tidak bisa begitu saja menuruti kemauan nikah muda yang diminta oleh ayah atau ibu mereka. (ik)


                                                                                                                                       
Tulisan Lepas untuk Muda-Mudi di Romben Guna Tulisan Lepas untuk Muda-Mudi di Romben Guna Reviewed by ach zamhari on 4:08 PM Rating: 5

No comments

Post AD